Chapter I : Freedom
THERE IS NO SUCH THING AS FREEDOM IN THE FIRST PLACE
Pada dasarnya kita hanyalah hidup mengikuti hasil tindakan orang-orang di sekitar kita.
Bak seorang pengemis yang berpuasa demi memberi makan anaknya. Seorang pedagang yang berebut massa. Seorang nelayan yang menebar jala. Dan seorang pelacur yang berbuat dosa. Kita hidup dengan sebuah besi di leher kita. Tidak melakukan apa-apa maka kita akan mati sia-sia.
Apakah benar kita hidup dengan kebebasan?. Apakah orang kaya menikmati hidup mereka tanpa memikirkan bangkrut keuangan?. Apakah orang miskin memiliki kebebasan karena yang mereka pikirkan hanya makan bukannya kesehatan?. Dan apakah seorang polisi menikmati kehidupannya berburu kriminal hanya untuk menegakkan sistem keadilan?.
Sebenarnya apa itu kebebasan?. Mencari kesenangan?. Sukses dalam hal keuangan?. Hidup damai tanpa adanya beban pikiran?. Atau hanyalah sekedar cara untuk menjalani kehidupan?.
Jika sebuah penjara adalah keinginan. Seorang tahanan adalah seseorang yang menjalani kehidupan.
Kita tidak bisa keluar dari penjara sebelum memenuhi keinginan. Keluar dari penjara sama artinya dengan mengakhiri kehidupan.
Seorang anak yang diwajibkan menuntut pendidikan. Seorang pemuda yang dituntut masuk ke perguruan. Seorang pria yang diharuskan mempunyai pekerjaan. Pasangan suami istri yang diwajibkan mempunyai keturunan. Dan seorang lansia yang diharapkan untuk bertahan.
Manusia hidup hanya untuk memuaskan hasrat.
Dunia itu rumit, tidak bisa dipahami hanya dengan tulisan maupun lisan. Jika tulisan adalah pemikiran orang lain, lisan adalah isi hati orang lain.
Banyak orang berbohong melalui tulisan. Banyak pula yang berbohong secara lisan.
Seorang anak yang berbohong kepada temannya. Calon pekerja yang memalsukan pengalaman kerjanya. Seorang suami yang berbohong kepada pasangannya. Dan seorang tokoh penting yang berbohong kepada masyarakatnya.
"Dunia ini penuh dengan kebohongan".
Kalimat itu selalu muncul dalam benakku. Siang, malam, pagi, dan petang.
Pengertian baik dan buruk sebenarnya hanyalah pemikiran masing-masing individu. Suatu kubu akan menilai kubunya baik dan menilai jahat kubu lawan, dan sebaliknya. Sebuah perang antar negara. Pertikaian antar agama. Siapa yang terkena propaganda siapa. Siapa yang hidup di lingkungan seperti apa. Dan siapa dengan cara berpikir bagaimana.
Jika kejujuran saja sulit didapatkan, bagaimana dengan kebebasan?.
Namun itulah manusia. Kita tidak bisa hidup hanya dengan menanam padi. Kepentingan semua orang tidak ada apa-apanya dibandingkan kepentingan pribadi. Tidak ada yang bisa mengalahkan nafsu birahi. Semakin ditahan semakin menjadi-jadi. Seperti seekor kepiting yang memakan anaknya sendiri. Kita hidup menikmati hasil benih yang kita tanam tadi.
Tidak peduli bagaimana kondisi mereka. Fisik maupun mental. Tidak banyak yang peduli dengan kondisi orang lain selain orang yang mereka kenal sendiri. Seseorang mengalami musibah namun dia bukanlah orang yang mereka kenal, apakah mereka akan merasa sedih?. Apakah orang yang berada di sekitarnya merasa sedih?. Haruskah mereka merasa sedih?.
Haruskah mereka berlagak sedih untuk berempati?. Namun bukankah itu adalah suatu bentuk kebohongan seperti yang kita bicarakan tadi?. Apakah sebuah kebohongan untuk alasan baik adalah suatu tindakan yang bisa ditoleransi?. Dimana kebohongan sudah pasti tidak bisa kita hindari. Begitupun dengan kebebasan yang hanya akan menjadi mimpi di siang hari.
---
"Maaf, anda tidak termasuk kriteria perusahaan kami".
Mendengar kalimat itu seperti sudah menjadi kebiasaan dalam keseharianku.
Tidak pernah kubayangkan kehidupan orang dewasa akan menjadi serumit ini.
Sulit mendapatkan pekerjaan tetap, tinggal di apartemen reot nan kusam, mencari pekerjaan paruh waktu tambahan untuk menambah porsi makan, dan pergi menyelinap untuk menghindari tunggakan pembayaran.
Diriku di masa kecil akan tertawa terbahak bahak jika mengetahui akan jadi apa dia nantinya.
Pendidikan adalah segalanya di dunia ini, dia harus tau itu. Seorang manusia dengan bakat tanpa riwayat pendidikan tidak ada apa-apanya dibandingkan seorang idiot dengan riwayat pendidikan yang dia dapatkan dengan sogokan uang.
Aku sudah mengetahui hasilnya dari awal. Tapi apa salahnya mencoba?. Tanpa mencoba diriku tidak akan pernah maju. Akan mati konyol karena kelaparan di apartemen tua itu.
Tanpa basa basi kupergi keluar tempat ini. Menuju ke tempat kerja sambilan. Jam menunjukan pukul 4 sore. Kerja sambilan dimulai pukul 6 sore. Kereta terakhir akan berangkat 15 menit lagi.
"Siapa juga yang mau naik kereta".
"Lebih baik kuhabiskan untuk makan yakisoba".
Berjalan ke tempat kerja sambilan dari lokasi interview membutuhkan waktu setidaknya 1 jam penuh. Tetapi diriku sudah terbiasa dalam hal ini. "Hitung-hitung olahraga" begitulah alibiku. Berjalan dengan santai kuberpikir apa yang akan terjadi dalam hidupku kedepannya. Bukankah lucu menjadi seorang lajang di usia 28 tahun. Semua temanku sudah menikah bahkan mempunyai anak. Sedangkan aku disini bingung mencari pekerjaan.
Aku memang begini. Malas menempuh hal yang sulit. Orang lain pasti akan memulai usaha sendiri setelah ditolak banyak perusahaan. Aku mencintai zona nyamanku. Atau mungkin ini bukan zona nyaman sama sekali setelah kupikir-pikir lagi.
"AAAAAAHHHH!".
Jeritan itu menyadarkan ku. Jeritan seorang wanita yang terdengar sangat dekat.
Tidak ada orang lain yang mendengarnya. Para muda mudi menyumpal telinga mereka dengan earphone yang tersambung ke ponsel. Pekerja kantoran yang fokus berjalan ingin segera menuju rumah mereka masing-masing. Dan para orang tua yang menjaga anak mereka di tempat umum.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mungkin mengabaikannya adalah pilihan terbaik. Dengan begitu aku tidak akan ditimpa masalah. Lagipula apakah dia kenalanku?. Untuk apa aku peduli.
Tetapi kedua kakiku berkata lain. Sibuk mencari asal suara tersebut mengabaikan pola pikirku.
Suara itu semakin merdu. Terdengar seperti sebuah lagu. Tidak tau pasti apa yang sedang terjadi denganku. Kudapati diriku sedang berlari di sebuah gang kecil tepat di belakang pusat keramaian.
Mencari sumber suara yang bisa saja hanya sebuah halusinasi karena tidak makan selama beberapa hari. Semakin dekat suara itu, semakin gelisah diriku. Tindak kriminal di kota ini sangat jarang namun bukan berarti tidak pernah. Memikirkan itu semakin membuatku resah.
Seorang pria paruh baya dengan postur tubuh menyerupai patung. Berpakaian rapi dengan jas dan sebuah kalung. Dibawahnya seorang wanita yang sepertinya masih duduk di sekolah menengah atas. Melihatnya membuatku berkesimpulan ini adalah salah satu tindakan kriminalitas. Tidak banyak orang yang berjalan di area ini terutama di siang hari. Hanyalah para pria dan wanita yang ingin memuaskan nafsu birahi.
*smack* *smack* *smack*
Melihatnya membuatku sakit. Berbagai macam pukulan dilayangkan pria itu kepadanya. Seorang gadis yang sudah pasrah tidak bisa berbuat apa-apa. Haruskah aku berbuat sesuatu?. Apa yang akan terjadi jika aku tidak menolongnya?. Bukannya itu hanya akan memberiku lebih banyak masalah kedepannya?. Tubuhku bergetar dan berkeringat seketika pria itu mengeluarkan pisau dari saku nya.
Pikiranku hilang begitu saja. Aku tidak ingin hal ini terjadi kepadanya. Adiknya pasti sedang menunggu kepulangannya. Ibunya pasti sedang membuatkan masakan untuknya. Pacarnya pasti sedang menunggu pesan balasan darinya. Dan ayahnya pasti sedang memikirkan dia di tempat kerjanya. Padahal aku tidak mengenal mereka. Tetapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja.
Ku berlari secepat yang kubisa. Mengabaikan apa yang mungkin terjadi nantinya.
"Sial"
Itu yang dikatakannya seketika dia melihat kearah ku. Ekspresi pucat terpasang dengan jelas di wajahnya. Tidak tahu apa yang akan menantinya. Menghantam wajahnya adalah semua yang kupikirkan saat ini. Memberinya pelajaran agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Terlalu cepat berlari membuatku mengabaikan sekelilingku.
Sampai pada akhirnya kakiku tergelincir. Berada dalam posisi berlari kucoba untuk menjatuhkan diri kedepan kearah pria itu. Tubuhnya terlempar kebelakang menabrak sebuah tembok. *bang*
"AAAHHH"
"Sial AAAAHHH"
"apa yang sudah kau lakukan...,?"
Dia berteriak menjerit kesakitan. Untuk pria paruh baya sepertinya pasti menabrak tembok adalah hal yang menyakitkan. Begitu pikirku.
Gadis itu berdiri secara perlahan. Masih dalam kondisi shock tidak karuan. Bukannya menangis dia justru mengambil pisau pria itu dan menodongkan kearah nya dengan nada penuh ancaman. Namun seketika perhatiannya jatuh kearah ku yang tidak bisa berdiri tanpa bantuan. Dia mengulurkan tangan itu kearahku.
"terima kasih sudah menyelamatkanku..."
Katanya sambil memasang senyum yang dipaksa. Dengan jelas kulihat air mata menghiasi wajahnya.
Seluruh badanku sakit tak karuan. Untuk berdiri saja membutuhkan bantuan. Ku raih tangan itu dan berdiri membetulkan posisi. Kulihat pria itu terus berteriak. Meminta pertolongan dengan memohon tanpa memikirkan apa yang telah dia perbuat. Ku ambil pisau dari gadis itu dan mencoba untuk menenangkannya.
"AAAHHHHH"
"ku...mohon..."
"apa yang kau inginkan sialan?"
Jawabku dengan ekspresi marah yang sudah tidak bisa kutahan. Perlahan ku berjalan kearahnya berharap memberikan beberapa hadiah pukulan kewajahnya. Baru saja mengepal tangan, ku melihat sebuah bercak merah menyebar di baju putihnya. Dia sudah tidak berbicara hanya berdiri diam menatap mataku secara dingin.
Pikiranku semakin menjadi-jadi. Tidak mungkin hal ini baru saja terjadi. Diriku yang ingin berlagak seperti seorang pahlawan justru mendapatkan masalah yang mungkin akan membuatku tidak pernah merasakan sinar matahari lagi. Kakiku bergetar. Tubuhku berkeringat. Wajahku pucat. Hati ini berdetak seperti ingin meledak.
Aku takut, marah, sedih, bahagia, dan cemas. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku diam ditempat.
Kedua kakiku memasang tempat tidak bisa bergerak. Aku hampir pingsan.
Gadis itu berjalan ke bagian belakang badan pria tersebut. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Sebuah pipa besi bengkok menancap ke bagian tubuhnya. Gadis itu terdiam ketakutan. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya. Wajar saja, semua orang pasti akan begitu.
Seketika gadis itu menggenggam tanganku dan membawaku berlari. Aku hanya bisa mengikutinya.
Kuberlari berharap ini semua hanya mimpi. Aku akan terbangun dan tertawa memikirkannya sepanjang hari. Namun mimpi ini terlalu nyata. Bahkan terlalu menyedihkan untuk diungkapkan dalam sebuah cerita.
"JANGAN BERGERAK!"
Itulah kalimat terburuk yang bisa kudengar dalam situasi ini.
Kenapa mereka harus datang tepat di waktu seperti ini?.
"TIARAP, TANGAN DIATAS. CEPAT!"
Sambungnya sembari menodongkan pistol kearah kami berdua. Aku hanya bisa pasrah. Menerima semua takdir yang akan menimpa. Kutelah mengambil sesuatu milik orang lain. Akan jadi lucu rasanya jika aku berharap orang lain akan bersikap baik kepadaku.
"Gadis ini tidak bersalah. Jika kau mencari pelakunya, aku orang yang kau cari"
Aku hanya ingin melindungi gadis ini. Itulah alasan ku dari awal pergi menolongnya. Aku ingin dia kembali dengan bahagia kepelukan keluarganya. Tidak peduli apa yang akan terjadi kepada diriku nantinya. Mungkin dengan ini aku bisa membuat seseorang bahagia dan mengingatku sepanjang hidupnya. Setidaknya.
"Ini hanyalah kesalahpahaman!,... dia mencoba memerkosaku dengan sebuah pisau!... lalu laki-laki ini mendorongnya dan tidak sengaja mengenai-"
*smack*
Pukulan itu sangat keras. Bahkan lebih keras dari semua pukulan yang pernah mendarat diwajahku.
"Ku mohon hentikan..."
Ku melihatnya menangis. Dua polisi lainnya membuatnya hanya bisa diam ditempat.
*smack*
Mereka sangat menikmati nya. Apa yang lebih mengasyikan bagi seorang polisi selain menghajar seorang kriminal?.
*SMACK*
Pukulan itu terasa sangat sakit. Hidungku terasa agak miring kesamping. Aku tidak bisa membuka mata kiriku. Rasa darah mengisi mulutku. Sampai pada akhirnya ku mulai kehilangan kesadaran. Semuanya menjadi gelap.
-----
Kedua mataku tidak mau terbuka. Semua yang kudengar hanya suara sirene dan seorang gadis yang berdebat tak henti-hentinya. Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Apakah itu tetanggaku yang sedang bertengkar dengan suaminya?. Lalu untuk apa mereka menyetel suara sirene?. Kepalaku sakit mencoba untuk mengingat semuanya.
"...sudah kukatakan dia hanya mencoba untuk melindungiku!.."
Suara itu terdengar familiar di telingaku. Tetapi darimana aku mengetahuinya?.
"Melindungi bukan berarti membunuh".
"Dia telah membunuh salah satu tamu penting dari amerika, dengan kata lain dia telah mengancam hubungan kedua belah negara".
Balas salah seorang pria yang terdengar sedang menjalani usianya yang ke empat puluhan.
"t-tapi...".
Gadis itu terdengar gelisah. Sedikit demi sedikit mataku mulai terbuka dan kulihat raut wajahnya. Termenung, sedih, dan cemas. Dia duduk di sebuah kursi. Di depannya seorang lelaki paruh baya dengan seragam kepolisian ditemani dua orang petugas dibelakangnya. Dia memegang sebuah pulpen dan kertas menanyakan berbagai pertanyaan.
Kumendapati sebuah borgol mengunci kedua tanganku. Pantas saja aku tidak bisa membuka mataku secara paksa. Ruangan ini sangat dingin. Sangat terang. Cat putih menghiasi seisi ruangan.
"Kenapa aku berada disini?....apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi?".
"Terjadi pembunuhan?, ....siapa pelakunya?".
"Aku?".
Gumamku dalam hati mencoba memproses semua yang telah terjadi. Aku tidak bisa memikirkan bagaimana aku bisa berada disini. Tidak ada satupun hal yang bisa kuingat. Wajahku terasa sangat sakit. Siapa yang membuatku begini?.
"Jika mereka berbicara mengenai pembunuhan maka bukankah artinya?".
"Yah tapi tidak mungkin, aku tidak pernah berbuat kejahatan sejak kecil-".
Aku terdiam. Tidak tahu harus memikirkan apa. Aku tidak bisa mengingat apapun. Bahkan tidak bisa mengingat masa kecilku, siapa gadis itu, dimana rumahku, apa pekerjaanku.....siapa namaku.
END OF CHAPTER 1
---

Comments
Post a Comment